pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York


Sebuah selingan sebelum kita melanjutkan topik debt based money… Berikut adalah cuplikan pidato pada upacara wisuda di Coxsackie-Athens High School di New York baru-baru ini. Disampaikan oleh wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun ini, Erica Goldson

Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan.......”

Walaupun kebanyakan orang tidak tahu seperti apa rasanya menjadi lulusan terbaik, tetapi saya rasa hampir setiap orang yang pernah sekolah sedikit banyak bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh “lulusan terbaik” ini.

Kalau Anda renungkan, sekarang setelah tidak lagi perlu membaca buku pelajaran sekolah, apa yang Anda rasakan tentang institusi yang dinamakan sekolah dan universitas? Apa yang sebenarnya telah Anda pelajari selama di sana? Karakter-karakter umum apa yang dimiliki oleh mayoritas penduduk, setelah belasan tahun di-training di dalam institusi itu?

Entah bagaimana menjawabnya. Yang pasti, salah satu persamaan umum di antara mereka mungkin adalah kemampuan dan insting untuk mengikuti instruksi…

Lakukan apa yang disuruh.
Percayai apa yang diajarkan.

Jangan menyimpang dari text book.

Tentu, segala sesuatu memiliki dua sisi. Membina sebuah generasi menjadi orang yang patuh mengikuti sistem ada baiknya (bagi orang-orang tertentu), dan ada juga sisi tidak baiknya (bagi orang-orang yang lain).

Anyway, ini hanya selingan untuk Anda renungkan, hari ini kita tidak akan membahas terlalu jauh tentang sekolah & universitas. Tetapi sebelumnya, sebuah pertanyaan untuk Anda, pernahkah Anda pikirkan mengapa selama belasan tahun orang di sekolah sampai menjadi the so called sarjana, mayoritas orang tidak pernah diajarkan tentang mekanika penciptaan uang?

Dalam pelajaran ekonomi di mayoritas sekolah, yang mereka bahas adalah bagaimana menangani berbagai akibat dari masalah, atau bagaimana bekerja dan menjadi budak yang lebih efisien, bukannya membahas penyebab dari masalah (debt based money system).

Ok, hari ini kita lihat-lihat kembali hal-hal mendasar dari debt based money system dan efeknya di sebuah populasi. Tetapi, pertama-tama, Anda harus paham dahulu darimana sistem kredit ini bermula...

Imajinasikan ini:
Katakanlah total emas di Republik Balon adalah 1000 keping. Rokiburger, yang memiliki modal 100 keping emas, memutuskan untuk menjadi pedagang uang dengan menagih 20% atas pinjamannya ke masyarakat setiap tahun. Dan laju pertambahan emas dari pertambangan sang Raja kurang lebih adalah 2,5% setiap tahunnya.

Sekarang mari kita lihat simulasinya. Tentu saja, angka-angka dan rentang waktu di bawah ini agak disederhanakan, tetapi tidak mengubah gambaran besarnya:



Uang berbeda dengan komoditas yang lain. Tidak ada pedagang komoditas manapun yang mungkin mengisap habis semua uang yang ada di sebuah populasi, karena barang dagangan mereka hanyalah sebagian dari kebutuhan populasi itu. Tetapi tidak demikian dengan pedagang uang. Uang adalah kebutuhan setiap orang di seluruh populasi. Bisnis pengadaan uang bisa memasuki lingkup hidup setiap individu di dalam populasi itu.

Sekarang coba lihat angka-angka di atas. Hanya dalam waktu 15 tahun, Pedagang uang akan mengumpulkan semua uang di dalam sistem. Itupun dengan asumsi hanya ada 1 pedagang uang. Di tahun ke-15, uang yang diperlukan di dalam sistem adalah 1541 keping emas, tetapi yang tersedia hanya 1448 keping emas.

Anda paham?

Sistem suplai uang di Republik Balon akan collapse kalau tidak ditemukan alternatif uang yang lain. Pada dasarnya, inilah inti sejarah jatuh-bangun finansial dari semua peradaban dan kekaisaran yang pernah dan akan ada, selain suplai energi yang sanggup mereka kumpulkan (bahan pangan, kayu, batubara, minyak dll).

Jadi apa solusi yang kemudian diciptakan Rokiburger di tahun ke-15? Ya, Anda sudah membaca puluhan kali, berkat kemajuan teknologi, suplai emas fisik yang kurang tidak lagi menjadi masalah untuk dijadikan alasan robohnya sistem megaprofit dia. Paper money (kredit), yang katanya dibacking oleh emas di ruang besinya, akan menggantikan emas fisik di peredaran. Dan beberapa generasi kemudian, setelah semua orang sudah terbiasa dengan paper money, tidak ada lagi orang yang benar-benar peduli berapa sebenarnya jumlah emas yang ada di lemari rahasianya.

Yang berkuasa mengatakan inilah uang, maka inilah uang. You are either with him, or against him. Sama seperti saat Raja terdahulu mengatakan kepada populasi bahwa emasnya adalah uang. You are either with him, or against him.

Mulai tahun ke-15, suplai uang akan diedarkan lewat sistem kredit, bunga yang didapat akan diputar kembali oleh Rokiburger untuk dipinjamkan kembali ke populasi. Yang diperlukan untuk mendominasi suplai uang sebuah populasi, sekalipun kepada mereka yang menggunakan the so called “uang sejati” adalah penagihan bunga pinjaman di atas tingkat pertumbuhan suplai uang mereka. Dengan berlalunya waktu, kekuatan bunga-berbunga akan mengalahkan “kesejatian” apapun.

(Di masa sebelum ditemukannya uang kertas, uang logam (emas atau perak) bisa dikurangi porsinya dengan digantikan oleh logam lain yang lebih murah. Dan kalau sudah tidak bisa lagi didevaluasi dengan logam lain yang lebih murah, peradaban populasi itu akan mulai collapse. Setahap demi setahap, kerajaan / kekaisaran mereka akan mengalami kemunduran. Dan setelah cukup banyak money slave terlikuidasi dalam proses kemunduran itu, sisa populasi yang masih bertahan hidup akan melanjutkan siklus berikut dan penciptaan peradaban yang baru. Yin followed by Yang. Yang followed by Yin. Siklus demi siklus…)


Apa perbedaan kredit Rokiburger dengan emas sang Raja? Hehe, bukan material yang saya maksudkan kawan. Emas di era Raja terdahulu diedarkan langsung oleh kerajaan tanpa proses penerbitan surat hutang, jadi uang itu muncul bukan sebagai hutang siapapun. Sedangkan kredit bank Rokiburger, uang itu muncul setelah proses pengajuan hutang seseorang kepada banknya.

Emas Vs Kertas? Bagaimana kalau seorang Raja mengedarkan uang sendiri dalam bentuk uang kertas? Ya, kalau demikian maka uang kertas bukan lagi surat hutang. Sebaliknya, bagaimana kalau bank Rokiburger mengedarkan kredit dalam bentuk emas? Ya, emas akan menjadi instrumen hutang.

Bagaimana uang diedarkan ke publik, perhatikan prosesnya, bukan material darimana uang itu dibuat. Sentimen negatif orang-orang tertentu kepada uang kertas, ataupun respek berlebihan orang-orang tertentu terhadap emas, terbentuk (atau dibentuk?) atas ketidaktahuan mereka mengenai bagaimana uang diciptakan dan diedarkan ke tangan publik.

Bagaimana caranya Rokiburger memastikan Raja tidak akan mengambil hak penciptaan kredit darinya? Ya, ini pertanyaan yang rumit, ada seribu jalan ke Roma… Coba posisikan Anda di pihak Rokiburger, apa yang akan Anda lakukan?

Pertama dan utama, sistem kerajaan perlu diubah. Bukan gagasan yang baik memiliki sebuah monarki yang berkuasa di depan Anda. Sistem tata negara perlu dimodifikasi. Gagasan pertama adalah kalau Rokiburgerlah yang menjadi Raja, tetapi ini akan sangat beresiko, kalau publik mengetahui apa yang dia lakukan, mereka akan menggulingkannya. Pilihan yang paling baik adalah ciptakan ilusi kalau publiklah yang berkuasa, padahal hal-hal penting apapun tidak berada dalam kendali mereka. Administrasi negara sebaiknya dijalankan oleh orang-orang pilihan Rokiburger (pion) yang seolah-olah dipilih oleh publik.

Raja harus digulingkan dengan cara apapun juga. Dan kalau sebuah kerajaan tidak bisa dihancurkan dari luar, maka harus dipikirkan bagaimana dia bisa dihancurkan dari dalam. (Manual terbaik dari teknik penggulingan dan manipulasi publik mungkin adalah protocol of zion, cobalah membacanya).

(Omong-omong, pernahkah Anda mendengar kalau "negara" Amerika adalah sebuah korporasi? Coba cari The Act of 1871. Saya penasaran apakah ada negara-negara lain yang juga demikian)

Setelah berhasil, saatnya mencari pion. Siapa pion-pion itu? Ya, pertama-tama, pion adalah orang-orang populer yang disukai publik. Tidak perlu pintar, atau lebih tepatnya sebaiknya jangan terlalu pintar, korup, dan kalau bisa memiliki beberapa sisi gelap dan kebiasaan buruk yang bisa dijadikan sebagai alasan pemerasan. Itu sifat-sifat yang terbaik.

Dari rakyat… Oleh rakyat… Untuk rakyat…
Suara rakyat, suara Tuhan…

Secara periodik penduduk akan memilih politisi idaman mereka, yang mayoritas memiliki ciri khas yang mirip, yang mewarisi sifat-sifat “terbaik” di atas. Uang kampanye dan pemilu akan datang darimana? Sebagian akan datang dari pajak, sebagian lagi bisa datang dari permintaan calon politisi yang meminta langsung ke lapangan. The sheeple are financing their own demise. Hehe…

Rokiburger dan ratusan grup-grup afiliasinya sendiri, mereka juga akan menyediakan dana kampanye kepada berbagai partai dan politisi level atas. Jadi, siapapun yang memenangkan pemilu, kepentingan grup mereka akan tetap terwakili.

The Top don’t speculate. They only win.

Sekali-kali memang ada politisi yang jujur. Tetapi, jumlah mereka tidaklah besar. Bagaimanapun, orang jujur jarang yang suka berpolitik. Ini realita. Politik adalah arena yang membutuhkan kesabaran ekstra panjang, intrik dan kemunafikan di dalamnya sangatlah memuakkan bagi orang-orang yang ingin hidup dalam kesederhanaan.

Jadi, pion administrasi yang disebut pemerintah pun terpilih silih berganti. Siapapun boleh berjuang menjadi presiden, siapun boleh berjuang menjadi pejabat negara. Yang penting, hal yang paling mendasar -sistem penciptaan uang-, tidak diganggu-gugat.

Setelah ratusan tahun, setelah sistem “demokrasi” tersebar di seluruh dunia, dan saat tidak ada lagi negara baru yang perlu ditaklukkan, apa yang perlu dilakukan grup Rokiburger hanyalah pemantapan dan penyempurnaan sistem.

Bagaimana kalau orang-orang tertentu melawan? Well, maka orang-orang tidak beradab itu adalah “teroris.” Rokiburger akan memerintahkan beberapa pion yang lain untuk “menegakkan demokrasi” dan menghabisi mereka.

Hanya ada satu hal yang akan menghentikan sistem uang kredit Rokiburger ini bekerja, yaitu saat populasi tidak sanggup lagi mengajukan pinjaman dan meminta bank Rokiburger memproduksi uang lebih daripada yang mereka bayarkan.

Melanjutkan Money Supply 101…

Sebelum melihat hutang rakyat negeri Balon, kita lihat dulu tahap 1 dari proses kreasi uang mereka, Hutang Pemerintah.

Misalnya Republik Balon menerbitkan surat hutang 100 milyar, didanai oleh kredit yang diciptakan bank sentral mereka. Asumsikan bunga atas surat hutang ini 8% untuk 10 tahun, maka total pembayaran adalah 145,6 milyar rupis. Darimana 145,6 milyar rupis untuk membayar surat hutang ini akan berasal?

Jawab:
1. Pajak
2. Surat hutang tambahan
3. Tak perlu dilunasi, saat jatuh tempo, 100M ini di-rolling saja oleh bank sentral. Yang penting ditemukan 45,6 milyar untuk membayar bunga.

Coba Anda tanyakan bahkan kepada anak SD, masuk akalkah proses ini? Mengapa menarik pajak kepada populasi untuk membayar bunga hutang ini, apalagi menarik pajak untuk melunasi seluruh hutang ini, kalau uang ini diciptakan dengan niat awal untuk dijadikan sebagai suplai uang rakyat negeri Balon?

Mengapa tidak sejak awal dicetak saja 100 milyar sebagai uang dan tidak perlu membayar bunga darinya, dan tidak perlu juga ada masa jatuh tempo atas uang ini?

Perhatikan kosakata ini:
Uang Vs Kredit

Kredit berfungsi sebagai uang, tetapi dia bukan uang. Kredit perbankan adalah medium transaksi yang diberikan kreditur kepada debitur, dengan masa jatuh tempo dan bunga tertentu. Saat kredit dilunasi, medium transaksi ini pun menghilang di dalam sistem. Yang tersisa hanyalah bunga kontrak kredit yang akan menjadi modal sang kreditur.

Bila sebuah negara bisa menerbitkan surat hutang, maka dia juga bisa menerbitkan mata uang. Elemen yang membuat sebuah surat hutang baik, juga akan membuat mata uangnya baik… Benar-benar gila mengatakan sebuah negara bisa menerbitkan 30 juta dolar surat hutang tetapi tidak boleh menerbitkan 30 juta dolar mata uang. Dua-duanya adalah janji untuk membayar, tetapi yang satu menguntungkan si pemberi riba, satunya lagi menguntungkan rakyat banyak.”
-Thomas Alfa Edison-

Hal yang paling sulit dimengerti di dunia adalah pajak penghasilan.”
-Albert Einstein-

Ok, itu untuk tahap 1. Sekarang kita lihat lebih lanjut tentang kolam suplai uang (kredit) yang dilakukan oleh penduduk Republik Balon.

Misalkan pada suatu waktu, suplai kredit mereka sampai di posisi seperti ini:
Hutang pemerintah : 5 trilyun
Total kredit populasi : 20 trilyun

Dan setelah melewati beberapa generasi, tanda-tandanya populasi mereka sudah mencapai peak credit dan akan memasuki proses deflasi (20 trilyun itu akan mulai menyusut).

Rata-rata bunga hutang pemerintah setiap tahun misalnya adalah 8% x 5T = 400 milyar. Artinya, pemerintah harus menarik pajak sebesar 400 milyar + anggaran untuk membayar biaya operasional pegawai dan perusahaan pemerintah, misalnya saja total 2T setiap tahun.

Lalu bagaimana dengan hutang konsumen di bank komersial? Sebelumnya Anda harus ingat lagi satu kalimat paling penting di artikel sebelumnya:

“Kredit, yang muncul dari udara kosong, (saat dikembalikan) akan kembali ke udara kosong”

Saat pembayaran cicilan hutang, hutang pokok akan menghilang di dalam sistem, yang tersisa di pembukuan hanyalah bunga yang statusnya sudah menjadi modal bank.

Mari kita sedikit bersimulasi lagi… Kita lihat sebuah hal menarik mengenai suku bunga dalam sistem ini:

Misalnya rata-rata kredit pada 20T ini adalah berupa pinjaman 10 tahun dengan bunga 20%, maka di akhir tahun ke 10, total pembayaran adalah 46,38T. 20T akan back to thin air, sisa 26,38T sebagai sisa suplai uang yang sekarang adalah modal ditahan bank. Pertumbuhan suplai uang adalah 26,38 / 20 = 31,9%

Misalnya rata-rata kredit pada 20T ini adalah berupa pinjaman 10 tahun dengan bunga 16%, maka di akhir tahun ke 10, total pembayaran adalah 40T. 20T akan back to thin air, sisa 20T sebagai sisa suplai uang yang sekarang adalah modal ditahan bank. Pertumbuhan suplai uang adalah 0 / 20 = 0%

Misalnya rata-rata kredit pada 20T ini adalah berupa pinjaman 10 tahun dengan bunga 10%, maka di akhir tahun ke 10, total pembayaran adalah 31,7T. 20T akan back to thin air, sisa 11,7T sebagai sisa suplai uang yang sekarang adalah modal ditahan bank. Pertumbuhan suplai uang adalah -8,3 / 20 = -41,5%

Untuk mencegah penurunan suplai uang, populasi harus mengajukan kredit baru. Semakin kecil suku bunga, semakin besar volume kredit baru yang harus diajukan populasi untuk mencegah penurunan itu.

Mengapa volume kredit harus membentuk kurva parabolik di negara manapun juga? Karena hanya itulah satu-satunya cara untuk mempertahankan suplai uang sambil membayar bunga yang diperlukan sistem.

Pada dasarnya Anda bisa kiss good-bye dengan angin surga semacam reservasi lingkungan atau gaya hidup konservatif (tidak banyak berhutang) lainnya. Menghadapi bunga atas medium transaksi adalah sebuah masalah, menghadapi bunga-berbunga (compounding interest) akan melipatgandakan masalah.

Jauh sebelum sebuah populasi selesai membayar kredit mereka, anggota-anggota populasi di dalamnya harus segera mengajukan kredit baru, dalam hal ini aktifitas apapun dari mereka secara langsung atau tidak langsung akan berhubungan dengan eksploitasi lingkungan.
Sebuah catatan lain tentang suku bunga… Suku bunga dalam sistem yang normal sebenarnya ditentukan oleh volume hutang populasi tersebut. Semakin lama interest debt based money berjalan, semakin berkurang daya berhutang mereka. Di luar mini boom & bust setiap beberapa tahun, Anda bisa perhatikan, sebenarnya suku bunga jangka panjang di negara yang ekonominya sudah mapan akan cenderung menurun, membentuk lower high dan lower low. Pasarlah yang lebih dominan membentuk suku bunga, bukan the so called rapat bank sentral.






Mengapa cenderung menurun? Karena peak credit yang semakin lama semakin dekat. Daya berhutang para budak semakin lama semakin mendekati limit maksimum mereka. Mereka tidak lagi pergi ke bank komersial dan meminta lebih dari yang mereka bayarkan. Semakin lama waktu berlalu, semakin mereka tidak sanggup membayar dengan tingkat bunga sebelumnya. Generasi yang satu selalu sedikit lebih miskin dibanding generasi sebelumnya.


You can’t have your cake & eat it too...

Anda tidak bisa menyimpan sebuah kue sambil memakannya… Jadi salah satu pilihan harus mengalah. Antara Anda terus mengeksploitasi lingkungan dengan kecepatan eksponensial atau Anda berhenti mengeksploitasi lingkungan dengan kecepatan eksponensial.

Kalau pilihan pertama yang dipilih, maka interest debt based money harus terus dilanjutkan. Kalau pilihan kedua yang dipilih, maka majikan tidak bisa lagi mengambil lebih dari yang mereka dapatkan.

Tetapi apa fondasi debt based money system?

Majikan akan memberikan apapun yang budak inginkan (uang), selama budak memberikan apa yang majikan inginkan.(profit / bunga atas uang). Bila budak tidak bisa memberikan apa yang majikan inginkan, tidak ada alasan majikan memberikan kepada budak apa yang budak inginkan.

Jadi jangan bertaruh untuk pilihan kedua. Setidaknya dalam jangka panjang. Saat bunga sudah turun mencapai limit rendahnya, dan volume kredit yang diperlukan sistem tidak kunjung datang, cepat atau lambat Majikan harus melikuidasi budak tak berguna mereka.

Bukankah Jepang sudah lama menerapkan suku bunga dekat 0% dan negara itu belum collapse? Jawabannya adalah karena mereka masih bisa mengimpor inflasi dengan mengekspor ke konsumen seluruh dunia (terutama Amerika). Tapi bagaimana kalau konsumen USA juga collapse? Hm…


Kembali ke populasi tadi, katakanlah konsumen mereka telah mencapai peak credit. Nilai credit market turun dari 20T menjadi 18T setahun berikutnya.



Konsumen tidak bisa lagi diandalkan untuk meniup balon hutang di dalam sistem, jadi sekarang kita harus mengandalkan pemerintah. Hehe… Tapi ingat ini, apapun yang pemerintah lakukan, ujung-ujungnya harus dibayar lewat pajak, karena uang yang mereka himpun adalah lewat surat hutang. Hutang harus dibayar!

Rencananya adalah menyuruh pemerintah berhutang lebih banyak. Asumsinya pemerintah lebih jago dibanding pihak swasta dalam mengelola uang. Dan setelah uang itu terkumpul, somehow belanja pemerintah itu bisa menggerakkan kembali roda perekonomian, dan balon hutang mereka bisa kembali naik. Misalkan pemerintah menambah surat hutang 1T (yang beli biasanya adalah dana dari publik, dan kalau tidak berhasil maka bisa dicoba monetisasi dari bank sentral).


Apakah cara ini akan berhasil atau tidak, satu hal yang pasti, sekarang pemerintah perlu menarik pajak untuk membayar hutang 6T nya, bukan lagi 5T.

Dan jangan lupa yang tadi, semakin besar volume hutang di dalam sistem, semakin banyak aktifitas ekonomi yang harus dilakukan untuk membayar ongkos sewa uang di dalam sistem, alias semakin besar ekploitasi lingkungan yang harus terjadi.

Apapun cara yang akhirnya dipakai, Anda perlu memahami ini... Pemerintah bukan sinterklas, mereka tidak akan melempar uang dari langit… Ada mekanisme di mana uang didistribusikan di dalam debt based money system.

Kita tahu pemerintah bisa membangun proyek infrastruktrur, kita juga tahu pemerintah memiliki sebuah pasukan besar yang dinamakan pegawai negeri, polisi, atau tentara. That’s it, merekalah yang akan mendapatkan uang hasil penjualan surat hutang baru itu.

Anda tidak berpikir bahwa deflasi suplai uang di seluruh populasi bisa dilawan dengan memberikan uang kepada kontraktor pemerintah dan pegawai negeri saja, bukan begitu?

Untuk meniup kembali balon fractional reserve banking, populasi itu harus memiliki kapasitas dan keinginan untuk meminjam (mengajukan kredit baru). Tetapi peak credit yang dialami populasi itu hanya sedikit terbantu oleh uang yang diterima oleh pasukan pemerintah yang tadi.

Jadi, apa langkah lainnya?

Yang paling mungkin adalah manipulasi social mood. Dalam kondisi apapun juga, pemerintah, beserta media yang ada, harus melaporkan proyeksi masa depan yang cemerlang, atau setidaknya lebih baik daripada yang mereka tahu. Yang ada adalah kosakata inflation expectation, tidak ada kosakata deflation expectation.

Ketika orang khawatir akan inflasi, mereka akan membelanjakan uang mereka (menukar uang dengan barang), dan dengan demikian aktifitas ekonomi akan lebih hidup (mencegah deflasi). Dalam batas-batas yang mungkin dilakukan, pemerintah dan bank-bank dealernya juga harus berusaha agar index saham, harga komoditi, dan harga perumahan tidak jatuh ke level yang membuat orang panik.

Bagaimana kalau semua usaha reflasi ini akhirnya gagal? Ya, berarti harus ada cara lain agar lebih banyak uang bisa diinjeksi ke populasi. Apa jalur paling efektif untuk melakukan itu?

Cara paling cepat adalah mengambil alih perbankan. Bagaimanapun perbankan memang ditakdirkan untuk bangkrut di era deflasi. Di saat simpton deflasi bekerja, banyak aset perbankan yang akan mengalami penurunan nilai. Dengan besarnya rasio fractional reserve banking yang mereka terapkan, modal perbankan dalam sekejap bisa terhapus. Mereka memang harus dinyatakan bangkrut atau diambil alih institusi lain.

Tiga gelombang debt based money system:
1. Inflasi dan turunnya nilai tabungan
2. Deflasi dan turunnya nilai ekuitas
3. Kebangkrutan massal dan konsolidasi kekuasaan

Dengan menyuntik modal baru ke perbankan, bank tidak perlu ditutup (tentunya bank-bank yang paling penting bagi grup Rokiburger, bank-bank skala kecil-menengah silahkan ditutup). Mereka bisa menunggu proses deflasi berakhir dan kemudian berharap siklus inflasi yang berikut bisa dimulai. Pertanyaan di tahap itu adalah apakah pemerintahan itu benar-benar sanggup menerbitkan surat hutang yang diperlukan sebagai modal untuk disuntikkan ke perbankan.

Masalah berikut, sekali lagi, pemerintah bukanlah sinterklas… Pemerintah bisa menyelamatkan perbankan dengan menginjeksi modal ke dalamnya, tetapi bagaimana dengan perusahaan swasta lainnya? Namanya juga peak credit, perusahaan-perusahaan swasta itu tetap saja tidak sanggup mengajukan kredit baru. Apakah pemerintah juga harus menyuntik modal ke perusahaan itu? Mengambil alih dan menjadi pemegang saham di dalamnya?

Kalau jawabannya adalah ya, maka pemerintah akan menjadi bos perusahaan mobil, asuransi, restoran, pabrik pakaian, perumahan, pertanian, perkebunan, dan manufaktur lainnya. Karl Max pasti terharu di liang kuburnya... Hehe…

Pendirian sebuah bank sentral adalah 90% dari usaha mengkomuniskan sebuah negara.”
-Vladimir Lenin-

Anyway, isme-isme tidaklah penting, mau disebut komunisme, sosialisme, kapitalisme, atau apapun. Tidak masalah perusahaan pribadi Rokiburger yang memegang kepemilikan, ataupun pemerintah, selama pemerintah hanya berfungsi sebagai sebuah lembaga administratif sistem. Pekerjaan politisi adalah memantapkan dan memelihara status quo, debt based money system. Saat masa jabatan pion selesai, poops… mereka bisa digantikan oleh pion-pion yang lain.

Next, mungkin orang akan bertanya, kelihatannya penambahan atau pengurangan suplai uang di dalam sistem berjalan secara relatif lambat. Lantas darimana datangnya kisah hiperinflasi seperti yang terjadi di Weimar atau Zimbabwe?

Harga barang kalau naik dari 100 menjadi 150 atau 200 masih bisa dibayangkan, tetapi bagaimana caranya harga naik dari 100 menjadi 1 juta? Mungkinkah pemerintahan mereka sedemikian dungunya mencetak 1.000T atau 10.000T di dalam ekonomi yang skalanya hanya 20T?

Negeri manapun tidak akan mengalami hiperinflasi ala Weimar kalau uang mereka tetap beredar di negara mereka sendiri (tidak ada defisit perdagangan yang akut), atau kalau mereka tidak memiliki hutang dalam mata uang yang tidak bisa mereka cetak sendiri. Pemerintahan negeri balon tidak mungkin menerbitkan surat hutang 1.000T, 10.000T, apalagi 100.000T rupis tanpa alasan di dalam ekonomi yang hanya berskala 20T. Sesederhana itu.

Tetapi begitu mereka berhenti menjadi masyarakat yang produktif (mampu membiayai impor dengan mengekspor barang / jasa yang memiliki nilai setara), atau mereka terjerat dalam hutang mata uang yang tidak bisa mereka kontrol, ceritanya akan berbeda.

Pinjam X bayar X, plus bunga X.
Pinjam Y bayar Y, plus bunga Y
Pinjam Z bayar Z, plus bunga Z

Kalau sebuah negara meminjam X, tetapi saat jatuh tempo tidak punya cukup X untuk membayar (X + bunga X), apa yang akan mereka lakukan?

Pertama, secepatnya memproduksi barang atau jasa dan jual ke negara X, atau jual ke negara lain yang memiliki mata uang X. Dalam kasus di mana langkah ini tidak bisa dilakukan, maka terpaksa melakukan langkah kedua, pinjam uang (hutang), gali lubang tutup lubang. Dan kalau masih tidak bisa, maka lakukan langkah terakhir, print money.

Pendudukmu mau impor minyak tetapi tidak punya uang? Ya, cetaklah surat hutang dan biarkan bank sentralmu membelinya. Serahkan uang itu kepada juragan minyak. Tetapi, mereka tidak butuh rupis. Jadi, tawarkan suku bunga rupis yang lebih tinggi agar mereka tertarik. Oo… Tetapi minyak akan habis bulan depan. Tenang.. Berikan saja rupis-rupis baru ke mereka. Tetapi, mereka tidak butuh rupis. Jadi, tawarkan lagi suku bunga yang lebih tinggi lagi agar mereka kembali tertarik. Tetapi minyak akan habis lagi bulan depan. Tenang.. Berikan lagi rupis-rupis baru ke mereka. Tetapi mereka tidak perlu rupis. Jadi, naikkan lagi suku bunga rupis agar mereka kembali tertarik lagi…

Booms… Lakukan cukup lama, & you are finished.

Ini bukan lagi masalah inflasi-deflasi yang dihasilkan oleh konsumen di pasar kredit internal mereka. Uang terus mengalir ke luar dan tidak kembali lagi ke populasi itu. Mereka boleh memilih deflasi dan kelaparan atau memilih hiperinflasi dan menunda sebentar waktu kelaparan. Pada akhirnya, yang akan terjadi tetap akan terjadi, kelaparan.

Perundingan Bretton Woods memutuskan bahwa US dolar adalah medium transaksi internasional. Sampai sekarang pun, dolar system masih belum berubah. Sedikit modifikasi dari apa yang diputuskan pada tahun 1944 hanyalah nilai dolar tidak perlu lagi di-peg ke dalam emas sejak 1971. Tentu saja tidak di-peg, tidak ada cukup emas di dunia untuk memenuhi kebutuhan compounding interest di dalam sistem. Ini skenario yang sama yang dipakai leluhur Rokiburger saat memperkenalkan sistem kredit.

From money to debt backed by money.
From debt backed by money to debt backed by debt.

Semua negara harus mengikuti dollar system. Mengapa? Sederhana saja, karena yang berkuasa mengatakan demikian.


You are either with him, or against him.

Dunia dan manusia tetap tidak berubah setelah sekian ribu tahun…

Perusahaan Anda mau mengimpor gula? Mau mengimpor minyak? Mau mengimpor benang? Atau mau mengekspor pakaian? Mau mengekpor kabel? Atau mau mengekpor beras? Well, dalam mayoritas transaksi Anda akan menggunakan US dolar.


Darimana datangnya dolar? Ya, dari konsumen Amerika. Dolar adalah medium transaksi (federal reserve note ataupun ekuivalen elektroniknya) yang muncul saat seorang konsumen mengajukan kredit ke bank komersial ataupun monetisasi pemerintah Amerika (yang dijamin dengan pajak yang akan mereka tagihkan ke rakyat mereka). Sederhananya, dolar adalah instrumen hutang rakyat Amerika. Sama seperti Yen, Euro, Rupiah, Renminbi, dll, adalah instrumen hutang rakyat negara bersangkutan.

Semua negara harus menjual ke Amerika, atau menjual ke negara lain yang menjual ke Amerika. Tanpa melakukan itu, mereka tidak punya dolar untuk mengimpor barang yang ingin mereka impor.

Anda sebaiknya berdoa quantitative easing the Fed bisa meniup kembali balon kredit dan menunda peak credit konsumen Amerika. Bila tidak, this show will end ugly… Very ugly

Atau segera dirancang medium transaksi internasional yang berikut, bagaimana transaksi antar negara dilakukan paska dolar system. Bila tidak, banyak orang di berbagai negara yang akan tenggelam bersama di dalam Titanic dolar system ini.